04 August 2012

Sayangnya Aku Bukan Alina

Ku temukan sebuah amplop rapih yang tertutup rapat di meja kerjaku senja itu, namun aku pun ragu bahwa aku akan mendapatkan surat di hari sabtu. Ku dekati amplop itu dan terbacalah sebuah tulisan diatasnya, untuk Alina. Namaku jelas bukan Alina, tetapi mengapa amplop tersebut ada di meja kerjaku? Sedangkang alamat maupun nama pengirimnya pun tak tertulis disana. Ragu aku membuka amplop tersebut, karena aku yakin ini bukan ditujukan untuk ku. Tetapi mengapa amplop ini ditaruh diatas meja kerjaku jika memang itu bukan ditujukan padaku. Lalu tak lama terdapat bisikan yang mengataka "bagaimana jika isi amplop tersebut sangatlah penting dan perlu waktu yang cepat untuk membalasnya?" Akhirnya ku beranikan diriku untuk memastikannya. Ku buka amplop tersebut perlahan dan dengan berhati-hati, aku tak ingin merusak bentuk amplop yang rapih ini. Terbukalah amplop tersebut, dan didalamnya kutemukan  terdapat sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Pengirimnya pasti mengirimkan sepotong senja di dalam amplop yang tertutup rapat ini dari tempat yang jauh, karena ia ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Karena sudah terlalu banyak kata di dunia dan kata-kata, ternyata, tidak dapat mengubah apa-apa. Namun sepotong senja ini tanpa harus berkata-kata ia akan tetap dapat bercerita dalam sejarah. Kata-kata memang tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita. * potongan cerpen dari  Seno Gumira Ajidarma, yang berjudul: Sepotong Senja Untuk Pacarku. Sepotong senja yang dikirimkan untuk Alina ini aku yakin bukan sekedar kata-kata cinta. Dikirimkan sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti sang pengirim mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala. Sore itu aku duduk seorang diri di beranda kamarku, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Aku merasakan bagaimana keindahan yang ingin diutarakan oleh pengirim untuk Alina.  Sayang aku bukan Alina. Alina manis, Alina sendu & hanya Alina yang akan ia ceritakan bagaimana kau mendapat senja itu. (Respon teks untuk cerpen Seno Gumira Ajidarma, yang berjudul: Sepotong Senja Untuk Pacarku)

01 August 2012

Sastra, Budaya dan Nusantara

Haaiii... Sudah 489 hari gue nggak isi blog ini, ahh.. Seperti orang sibuk saja. Atau mungkin sok sibuk! Yahh.. Entahlah biarkan pendapat yang membuat pendapat akan pendapatnya, hahhaha.. Sedikit bercerita tentang hari ini. Tada pagi gue mengalami perbincangan dengan salah satu teman di linimaya, cukup menarik sehingga gue berinisiatif untuk merangkumnya ke blog ini. Atas dasar itu pula gue mengisi blog ini lagi, hehhe.. Pembicaraan bermulai dari apa perbedaan bahasa Spanyol yang berada di Eropa dengan bahasa Spanyol yang berada di Amerika Selatan itu apa ya? Ohh.. Atau mungkin seperti bahasa Inggris-Amerika dan Inggris-British saja? Bukankan bahasa Latin itu dari Eropa? Mungkin jika dimaksudnya Amerika Latin, apakah dapat dikategorikan? Setelah dipikir-pikir, kasihan juga ya penduduk asli benua Amerika. Mereka sudah nggak akrab dengan 'bahasa Ibunya', karena yang berguna adalah bahasa warisan penjajah. Mari di cek dari utara ke selatan. Kanada? Inggris. Amerika? Inggris. Ahh.. Maaf, gue nggak bisa bilang Amerika itu negara, Amerika terlalu luas untuk dikatakan negara. Amerika itu benua. Baiklah.. Sebaiknya gue juga ganti kata Amerika diatas dengan USA? Namun tetap saja jawabannya.. Inggris. Dan bagaimana dengan Amerika Tengah serta Selatan (kecuali Brazil)? Mereka Spanyol. Brazil? Portugis. Seorang teman lain menanggapi pebincangan ini, Ia mengatakan bahwa Kanada lebih banyak menggunakan bahasa Perancis. Ohh.. Ini suatu pengetahuan tambahan buat gue pagi tadi, terima kasih sobat :) Argumenku dalam menanggapi pembicaraan pagi yang bisa dikatakan istimewa ini adalah "Kenapa mereka mesti malu untuk menggunakan bahasa daerah mereka sendiri?" Sama halnya dengan bila kita bertemu dengan 'bule-bule' dijalan, mereka dengan enaknya berbicara bahasa Inggris jika bertanya jalan. Sedangkan belum tentu (misalnya tukang becak) mengerti bahasa Inggris. Berbeda dengan Jepang atau Perancis, mereka tidak melayani turis yang tidak bisa berbahasa bahasa negaranya. Menurut gue ini jelas benar adanya, mengapa tidak? Apa kita mau bernasib seperti suku Aztec, Maya, Inca, Samoa, Indian? Bahasa mereka telah habis. Dipugar! Bayangkan saja, jika 15 hingga 30 tahun kedepan (jika tahun ini tidak kiamat). Suku batak, sunda, jawa, madura, bali, dayak, ambon, toraja, papua itu akan musnah dari Indonesia. Oke.. Oke.. Jika ada yang nggak suka gue menyebut dengan nama Indonesia, gimana kalo gue ganti Nusantara. Apanya yang Nusantara kalau bahasanya sudah dominan Inggris dan Perancis? Apakah ada sejarah Nusantara pernah dijajah oleh Inggris atau Perancis? Inggris cuma numpang 'buang hajat' di tanah Jawa! Sedangkan Perancis, sama sekali nihil dalam sejarah. Tapi lagi-lagi kenyataannya bagaimana sekarang? Inggris jadi bahasa penting melebihi bahasa persatuan di Nusantara ini. Disusul bahasa-bahasa dari Eropa yang sama sekali nggak ada korelasinya dengan NKRI. Yahh.. Kalo motivasi 'lo' menguasai bahasa asing (selain Inggris) adalah jembatan mengembangkan potensi diri. Sebaiknya jangan pernah lupakan asal muasal lo. Gue jelas lebih suka Rammstein, mereka jelas sekali: Mutlak Jerman, 100%! Kenapa gue suka? Karena menurut gue mereka itu pejuang budaya, bukan hanya sekedar dari hal substansi lagunya. Coba dengerin lagu Rammstein yang judulnya Amerika. Disana ada lirik seperti ini: "this is not a love song, I don't sing my mother tongue" brilian! Gue nggak tau ya apa motivasi mereka, tapi apa ada band Indonesia (kali ini Indonesia sangat jelas penggunaan katanya untuk gue pakai) yang sepede Rammstein. Mungkin JHF sudah mulai bergerak, sekarang mana yang lainnya? Jadi jika ada sebuah band Indonesia yang bergerak dengan semangat kedaerahan, jangan terburu-buru berpendapat kalo itu adalah primordialis atau chauvinis. Tolong dipikirkan lagi! Krakatau, Viki Sianipar, Balawan, JHF dan lain-lain adalah bukti kalo seni dan budaya itu bisa berjuang tanpa harus menghamba pada bahasa negara lain. Kalo kita aja nggak pede buat pakai 'bahasa Ibu' kita (baca: Tradisional dan Indonesia), jangan harap anak dan cucu lo punya identitas dalam sebuah peradaban. Masih perlu contoh? Dateng aja ke Jakarta dan coba data anak-anak muda yang hampir tyiap malam ada di &eleven. Apa mereka mengerti bahasa daerah asal orang tua mereka? Menjelang imsyak gue pun dapet materi menyenangkan dari sahabat lain yang selalu menyebut gue 'penulis satir' tentang bahasa. Ahh.. Jatuh cinta gue! Kalimat-kalimat yang dilontarkannya selalu membuat termotivasi untuk membaca lebih banyak buku, siap-siap ngumpulin peluru kalo suatu saat ditodong olehnya. Hahhaha.. Dia sedikit banyak mengajarkan gue tentang hal detail dan kesabaran. Pernah pula suatu ketika Ia bilang "Ojo kakehan konsep. Deingi ki modal, saiki yo prakteke, nek sing arepan kui jenenge konsepmu. Wis kui wae sing diinget." (yang artinya: jangan kebanyakan konsep. masa lalu itu modal, saat ini prakteknya, kalo masa depan itu konsep kamu. Udah itu aja yang lo inget." Selalu menyenangkan setiap kali berdiskusi dengan mahasiswa jurusan filsafat itu, meskipun medianya hanya personal messenger.

01 April 2011

hallo alien..

Kira-kira sejak kapan ya orang-orang mulai kurang waras? Banyak keluhan yang ngga penting untuk dijadikan bahan omongan. Merasa diri paling sengsara dan teraniaya. Seolah-olah, kejadian remeh seperti sudah menjadi akhir dari dunia. Membesar-besarkan sesuatu padahal cuma masalah sepele. Seperti tenggelam dalam emosi tingkat tinggi. Perasaan cemas yang berlebihan. Takut berkepanjangan. Dan sebagainya. Ya ampun, syndrome yang teramat aneh!

Orang-orang terbius suntikan kontroversi dalam dosis besar. Suka memberitakan diri sendiri, kemudian mencampur-aduknya dengan gosip tidak nyambung. Membahasnya dengan sangat terlalu kelewatan sekali. Maka, jadilah orang-orang itu artis dadakan dengan groupies-groupies teman-teman sendiri yang, mohon maaf, alien!
Bangga? Pasti!

Lho, kumpulan manusia apa ini? Sejak kapan figur-figur figuran itu nongol di cover depan? Siapa yang menokohkan mereka? Kok bisa-bisanya manusia alien dengan tampang seadanya, cuma mengandalkan angle kamera untuk jepretan terbaik yang mereka punya, lantas didaulat, atau lebih pasnya merasa diri jadi pusat perhatian? Sial, sulit dikritik nih. Indikatornya toh mereka sendiri yang membikin, plus, tentunya, didukung trend para alien!

Duh, manusia figuran alias manusia alien mestinya menyingkir pelan-pelan. Sebab habitatnya berstatus mengganggu bangsa ini. Bikin rusak saja cita-cita luhur penciptanya. Lebih cocoknya manusia figuran dan teman-teman aliennya masuk program Discovery Channel saja, supaya manusia-manusia waras bisa lempar remote, tetap pada channel sama untuk mengamati, sambil sesekali, beberapa kali atau selalu menertawai, melempari TV sebagai simbol kebencian pada manusia alien.

Atau.... Manusia alien bertransformasi saja, banyak-banyak introspeksi diri supaya bisa kembali lagi jadi manusia normal. Opsi terakhir, bunuh diri saja. Karena kadang-kadang, bunuh diri lebih manjur daripada berobat.

28 March 2011

weker sialan!

haii weker..!
di waktu kematianku, apa kamu akan berdering memberitahuku?
kenapa tidak pernah kamu janjikan soal itu padaku?
karena jujur saja, aku sudah kesal diatur-atur olehmu.
selama ini hidupku dimulai dari ocehanmu!
weker.. kenapa ini jadi tak adil!
kenapa kau memperingatkanku untuk memulai hidup di hari yang baru saja?
sedangkan untuk memulai kematian justru tidak!
haii weker.. kau punya rahasia soal ini ya?
atau mungkin benar, mati itu lebih mudah daripada hidup?!
(sehingga kau tak perlu repot-repot memberitahukanku)

27 August 2010

namaku iblis

Namaku Iblis, dan aku jauh lebih tua darimu. Bahkan jauh lebih tua dari kakek buyutmu.
Hidup dalam beberapa zaman. Sudah berapa banyak masa berganti. Percayalah, zaman di kehidupanmu inilah yang paling menyenangkan buatku.
Dulu, tiap manusia hidup berdampingan saling menghormati. Tak ada benda apapun di dunia ini disebut harta. Karena harta tak lain berupa nilai persahabatan dan persaudaraan. Kau tak dapat mencurinya, karena harta macam itu jauh dari rasa iri juga dengki.
Tiap orang saling menyapa. Mengumbar senyum dan sapaan ramah. Tiap orang merasa bahwa dirinya bagian dari orang lain. Jadi, mustahil untuk saling menyakiti.
Bahkan kalaupun terjadi perselisihan, masih terdapat banyak penghormatan dan memaafkan. Tidak ada pedang, bedil atau tank baja, sebab introspeksi diri menjadi senjata satu-satunya.
Dulu, perempuan dimuliakan. Diberikan tempat paling teduh diantara terik mentari. Perempuan adalah ibu. Penjaga benih-benih kehidupan abadi. Mereka dijaga oleh semesta, dimana tak seorang lelaki pun berani berhasrat nista pada mereka.
Demikian pula lelaki di zamanku dulu. Mereka terhormat. Hanya berpihak pada kebenaran yang hakiki. Kata-kata mereka adalah candu perbuatannya. Tidak ada ingkar terucap. Lalu, mereka juga menjunjung tinggi kesetiaan.
Raja kami adil bijaksana. Titahnya, suara nurani rakyat. Kebijaksanaannya tumbuh dari tuturan para ibu. Kesaktiannya muncul dari polah para ayah utama.
Dulu kami ber-Tuhan satu. Hanya satu, tetapi Dia mampu menaungi seluruh manusia dalam kedamaian.
Tidak seperti kalian sekarang. Tuhan kalian banyak, tapi kasihnya hanya rekaan diri sendiri.

Namaku Iblis, dan aku nyaman hidup di duniamu kini.

07 August 2010

dahulu dan sekarang

Aku baru tahu, hadiah ulang tahun dariku sudah tidak dia rawat dengan baik. Ditaruh di tumpukan kertas-kertas diatas printer tua miliknya, disisi lain ada juga yang tergeletak serampangan di atas meja penuh debu. Ahh..! Tapi mudah sekali rasanya dia beralasan ini itu. Dan menurutku, dia benar. Lagipula, hadiah DVD film-film dan lagu-lagu kesukaannya yang aku bakar menggunakan laptop-ku waktu di kota Yogyakarta dulu, sudah lama jadi miliknya. Dan saat ini sudah menjadi haknya mau diapakan, ya biarkanlah.

Aku senang, paling tidak, dia masih menyimpan hadiah-hadiah dariku, walaupun dia tidak menyimpannya dengan baik. Aku juga senang, senyumnya mengingatkanku akan kejadian-kejadian waktu aku pertama kali mengenalnya di rumah eyangku. Ketika saat itu aku mengerjakan riset di kota Yogyakarta, dan dia ditugaskan oleh advisor-ku untuk menjadi assistant site advisor-ku di kota Yogyakarta. Entah mengapa dia yang terpilih, yang aku tahu kala itu dia adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang membuat skripsi dan aku sempat berkata dalam hati ”Hahha.. sial sekali dia harus menjadi assistant site advisor-ku disini.” Gaya rambutnya? Ahh..! Masih saja sama. Panjang, nanggung dan berantakan. Aku suka memanggilnya "Gembel Bau!" hahha.. Cara berpakaiannya pun tidak ada yang berubah, masih suka memakai jeans kusam, kaos oblong, sesekali dipadukan dengan jacket warna gelap. Dia lebih suka memakai sepatu converse belelnya daripada sendal. Kebiasaannya yang malas menata rambut juga tetap bertahan. Caranya mengendarai motor itu pun masih tetap sama, serampangan. Berulang kali aku singgah ke kota Yogyakarta, aku selalu mengurungkan niat untuk bertemu dengannya, namun tidak kali ini. Entah mengapa aku lebih memilih untuk menghubungi dan bertemu dengannya untuk menemaniku mengelilingi objek wisata Yogyakarta, yang sebenarnya sudah aku hafal sejak aku duduk dibangku sekolah dasar; dibanding aku berjumpa dengan teman-temanku dan menghabiskan hari-hari serta menggila seperti biasanya ketika aku berada disana.

Selama perjalanan mengelilingi objek wisata di kota Yogyakarta, kami masih suka bercerita hal-hal bodoh sewaktu Dia menjadi assistant site advisor-ku dalam membuat riset dan juga sebagai guide relawan yang mengantarkanku keliling kota Yogyakarta hanya dengan bayaran nasi angkringan. Misalnya saat aku lupa menyalin isi risetku kedalam kertas kerja yang menjadi dasar penemuan risetku dan terselip entah dimana, sehingga aku harus kembali ketempat riset dan mengulangnya dari awal. Sementara dirinya, harus membuat report tentang diriku setiap harinya dan tidak tahu harus menulis apa jika aku tidak memiliki hasil pada kertas kerjaku. Lalu kami tidak benar-benar mengerjakan tugas kami, aku justru berkata sambil berjalan kearah motor "Hey.. Begini saja, jangan buang waktu. Ayo kita pergi sekarang dan kamu harus antar aku untuk melihat-lihat proses pembuatan perak.” Belum juga dia menjawab ajakanku, aku sudah siap diatas motor lengkap dengan helmet yang terpasang dikepalaku. Dan Dia menghampiriku ke motor dengan senyum sambil melirikku jahil. Sehari itu pun kami hanya berkeliling kota Yogyakarta tanpa mengerjakan tugas kami. Hahha.. Sungguh menyenangkan rasanya ketika kami saling mengingat masa-masa kenakalan kami saat itu.
Terakhir kali senyumnya masih sama, seperti dulu waktu aku pertama kali mengenalnya di daerah Kadipaten Lor, kota Yogyakarta tiga tahun lalu. Adalah saat Dia menjemputku di Bandara Adisucipto. Itu senyum yang kuingat betul dari seseorang yang kukenal dengan baik. Seorang laki-laki yang dengan bangga aku sebut sebagai pacar kala itu. Sekarang aku harus cepat-cepat berkemas. Kereta berangkat jam 20.45 WIB hari ini dari Stasiun Tugu. Dan waktunya sudah mepet, tidak ada waktu buat basa-basi lagi atau mengenang romantisme masa lalu.

Aku berpamitan pada semua anggota keluarganya yang ada di rumah. mengucapkan terima kasih kepada seorang ibu cantik yang dengan susah payah menambah porsi masakan selama tiga hari ini. Kepada seorang ayah yang gagah di umur yang sudah tidak lagi muda, yang dengan serius menanyakan kabar keluargaku di Jakarta. Kakak dan adik kecilnya yang suka selalu menanyakan apakah kami sudah makan atau belum. Dan tentu saja yang paling khusus, ucapan terimakasih dan pamit kepadanya yang selalu ada buatku selama liburan ini. Lalu, ketika aku bergegas untuk masuk ke bordes keretaku, Dia.. melepasku dengan pelukan dan senyum yang baru, senyum seorang sahabat.

26 July 2010

berbau amis!

seperti yang kubayangkan sebelumnya, mayat-mayat itu terlalu cepat berbau amis. padahal baru setengah hari ditumpuk begitu saja, sejak pemenggalan terakhir tadi siang.

ohh.. lihatlah, aku paling tidak suka ini. genangan darah di lantai masih saja belum beku. ada saja irisan dari potongan-potongan pucat itu yang masih mengucurkan cairan merah kental dan selalu terbayang di angan-anganku. huhh! tadi, pagi-pagi sekali aku harus bangun untuk menyingkirkan semua imaji yang membuat tidur malamku tak karuan dan mencoba mencucinya agar sementara tidak dapat aku pakai (walaupun aku tak berharap memakainya lagi). sayang tak dapat dipungkiri, percikan darahnya terlalu banyak! ini semua gara-gara ujung celanaku lupa kulipat. sial! ceroboh sekali!

astaga, sekarang baru ingat. aku lupa mengambil air minum. ahh! malas benar, kembali ke ruangan dapur. bukan karena jaraknya, tapi karena harus melewati sel tahanan. ohh.. aku sama sekali tidak tahan melihat raut wajah para tahanan. seperti sudah tidak punya kehidupan. melihat mereka seperti melihat mayat yang sudah dikubur, lantas dikeluarkan kembali buat dipindah ke liang lain.

teriakan tahanan, isak tangis ibu-ibu, bujukan agar aku mengeluarkan mereka setiap kulewat dari perempuan muda. tatapan kosong anak-anak tak bersalah. jeruji-jeruji besi bikin aku tambah merinding. itu bukan sekat penyiksaan. buatku malah mirip peti jenazah yang dihuni mayat sekarat! sebuah perumpamaan yang aku sendiri bingung, apa bisa menggambarkannya dengan tepat. (maaf jika aku salah!)

benar-benar malas kalau harus ke dapur lagi mengambil teko air. lagi-lagi aku ceroboh! kenapa cuma nasi bungkus saja yang aku ingat dan kenapa juga, celana lupa kulipat kemarin siang. aku benar-benar tidak berani melewati ruang tahanan. apalagi sejak kemarin malam, ketika seorang tahanan pria lajang memintaku menghentikan langkah di depan selnya. "dengarkan aku gadis. bantu aku, ahh.. maksudku kami keluar dari sini. kami hanya korban dari perebutan kekuasaan emosional. kami tahu engkau bukan bagian dari mereka. maka dari itu, bantulah kami," kalimat pria itu terus terngiang dengan jelas, sejak terakhir kali diucapkannya di sel. begitu pula saat kukemasi potongan kepalanya ke dalam kantong.

pemandangan dan suasana ruang mayat tetap sama bagiku. cuma sesekali saja nampak berbeda. aku berharap pada hari ini para algojo libur, sehingga pekerjaanku membungkus potongan pucat sekaligus menguburnya, bisa kuhentikan sehari. kala demikian, aku paling hanya membersihkan bercak-bercak di lantai, pinggiran meja, kursi dan jendela. kadang-kadang, noda darah terlalu sulit dibersihkan. harus digosok kuat-kuat. memakai cairan khusus pula. yang tentu saja kalau bawa sedikit, mesti balik lagi ke dapur dengan rute pendeknya yang membuat aku merinding.

hari ini, aku berharap bisa pulang lebih awal. tapi, tetap saja membosankan. entah mengapa, otakku seperti sudah membusuk. apa mungkin akibat bergaul dengan mayat? mana mungkin. bahkan kalau mayat benar-benar berbicara, mereka pasti sulit melakukannya dengan kondisi tidak utuh seperti itu.


....namun sampai aku menulis tulisan ini, aku tetap mencoba menyukai bau amis ini dan aku berharap bau amis yang mengelilingi ruangan segera hilang digantikan oleh bau dari pembersih khusus yang telah aku siram kelantai!

22 July 2010

renungan disudut stasiun kota

heii.. akankah hari ini BERBEDA?



guyuran air yang sama segarnya..
wajah-wajah yang sama kukenalnya..
jerit tawa....
rentetan rapi kata....
gemuruh kereta....
ahh! semua SAMA...............!!



namun apa yang BERBEDA?



hahha.. hari ini SAMA!!
penuh CINTA dalam berbagai WARNA..



besok warna apa lagi ya?
terima kasih kawan-kawan,
kau yang kukenal..
kau yang belum kukenal..
kalian semua telah membuat hariku SAMA!!
penuh CINTA...............





yupp!! aku tak akan pernah PEDULI lagi..
besok akan menjadi warna apa.. :P

19 July 2010

From Sunday Afternoon

Dari sebuah kertas bernama kelabu..



"Apakah kamu pernah ke Athena? Gedungnya bagus. Letaknya di daerah Kota. Aku ke sana untuk minum alkohol murah dan nonton dangdut. Ia suka dangdut. Oh, well, dia suka cewek-cewek yang nyanyi lagu dangdut di cafe-cafe. Kadang dia ke Asmoro, tapi kalo ngga punya uang, dia pergi ke kota. Dia cakep dan banyak cewek dangdut menyukainya. Dulu, tempat ini pernah diserbu FPI katanya. Mereka menuduhnya sebagai tempat maksiat. Tapi bisnis telah kembali. Orang tidak peduli dengan FPI begitupun aku. Aku dan dia suka nongkrong di Glodok. Ngga ngapa-ngapain, tapi dia suka cerita tentang masa kecilnya. Dia tinggal dari kecil di daerah Glodok. Dia pintar bercerita. Aku pikir dia akan jadi pembuat film yang bagus. Di Glodok, banyak orang-orang China. Setiap malam, di sepanjang jalan di Glodok, orang-orang China mengangkut barang-barang dari dan ke pasar. Tengah malam, distributor DVD bajakan membawa DVD-DVD dari Serang dan Tangerang untuk dijual di belakang pasar. Di pasar Pancoran. makanan-makanan dan permen-permen dari Malaysia didrop ke pedagang-pedagang kecil yang memiliki kotak-kotak untuk jenis permen yang berbeda. Di dekat kuil, pasar dipenuhi dengan pedagang bunga-bunga, sayuran dan ikan-ikan. Jalannya becek dan air comberan menguarkan bau para gelandangan. Setiap pagi, orang-orang China membuka toko-tokonya yang telah menua oleh debu. Beberapa berwarna hitam sisa kebakaran 1998. Pembantu-pembantu dari pelosok Jawa sibuk menyapu dan membersihkan toko sementara cici-cici China berolahraga dengan kostum norak seperti dalam film Tsai Ming Liang. Aku sering ke Glodok untuk membeli DVD bajakan untuk tugas kuliah. Pasar DVD bajakan Glodok katanya yang terbesar. Tempatnya kecil dan udaranya panas. Berbagai jenis dan judul film bisa dibeli di sana, mulai dari film-film seni Korea hingga porno Miyabi Jepang, mulai dari film box-office Indiana Jones sampai VCD-VCD karaoke dangdut dari Panarukan. Semua tersedia dengan harga yang murah. Di dekat pasar, ada mall elektronik yang menjual berbagai peralatan, mulai dari camera, kulkas, mesin cuci hingga TV. Di foodcourt, ada panggung karaoke tempat orang-orang tua China menyanyikan lagu-lagu Mandarin dengan suara menyedihkan. Aku biasa minum jus dan makan pisang goreng Pontianak di sana. Sendirian. Di hari Sabtu.”



Tampaknya itu setahun yang lalu dan ketika minum jus sendirian dan melihat orang-orang tua Tionghoa berkaraoke adalah pekerjaan yang menjengkelkan. Kemarin, ketika hari Minggu berbeda dengan hari-hari Minggu yang lain, ketika aku belum dan tidak ingin mengunjungi temanku yang terkapar di kasur rumah sakit, atau berkumpul bersama teman-teman untuk pergi dan bersenang-senang hingga hari berlanjut malam, aku kembali mengunjunginya.



Lalu cerita berlangsung seperti ini...


"Saat itu hujan di Victoria. Singapura dingin sekali dan titik-titik hujan berjatuhan bagaikan paku-paku menembus tubuh-tubuh. Kau melihatnya berlari menuju tudung-tudung fiber di dekat sayap kiri perpustakaan di depan Seven Eleven. Dari kejauhan, asap berkelus dari makanan-makanan China berwarna kabut. Sementara neonsign Pepsi menyala benderang. Kau melihatnya mengibaskan jaket hitamnya yang legam. Dalam hitungan detik, ia sudah duduk di bawah tudung berwarna putih bertuliskan huruf-huruf China sambil memegang secangkir kopi cafe-booth pinggir jalan. Dia seperti seseorang yang kesepian, di sebuah musim dingin dalam sebuah novel. Wajahnya yang putih pucat menampakkan matanya yang sipit, seperti Tionghoa dengan mata kelabu. Ia memakai jaket hitam Prada dan syal Burberry kotak-kotak, langit tampak begitu murung, sementara tangisan tersimpan di ujung-ujung kamar. Ia menuang kopi dan mengebaskan isi cangkirnya di dekat buku kumpulan puisi Rimbaud yang terbuka, lalu kertas-kertas berterbangan di padang-padang rumput, seperti perpustakaan BFI yang sunyi, dan dialog-dialog film berbahasa Perancis dari kejauhan. Bahkan dari nada narasi pun kau akan tahu bahwa itu Godard dan bukan Truffaut. Musim tak juga berganti, seperti juga film-film Tarkovsky. Semua tampak berwarna alumunium. Mengapa kau merasa beberapa benda dibuat oleh perasaan-perasaan tertentu? Kau seperti berada di sebuah iklan Burberry, tampak sedih dan sendirian. Kau sendirian, mendengarkan lagu-lagu berbahasa Perancis sambil membaca Hanif Khureisi. Ya, dia akan menang Nobel sastra tahun ini."

17 July 2010

back to the clock!

durasi kosong...
__________________________________________________

aku sendiri, hanya menepi pada sepi
hari ini sinarmu terasa...... PERIH!
tapi arghh...... tetap berdiri... SENDIRI......
kemanakah siang?
oh...... dimanakah itu harapan?

dan saat ini aku tetap terlelap
minggu pagi...
terlalu senggang!
kuharap esok masih menunggu... lagi......

dan setelah ini apa?
apakah akan berharga?
apa makna semua ini......
bisakah kau tertegun lelakiku?

habis...... apalagi?!

...... dan aku telah menyimpan kisahmu

assalamuallaikum......
apa yang telah berharga dan tiada yang lebih indah

dari pada merasuki sinarmu...... di sore waktu......
dan pada akhirnya, aku berjalan pulang ke awal kisah......

back to the clock!

siwaratri atau malam akhir pekan?

Lubdaka, dahulu pergi ke hutan
Manusia sekarang pergi ke cafe atau hotel pinggir kota
Lubdaka, dahulu pergi berburu binatang
Manusia sekarang tetap sama, berburu juga, namun berburu kesenangan!
Lubdaka, dahulu melakukan upawasa (puasa)
Manusia sekarang puasa ngelonin suami atau istri orang
Lubdaka, dahulu melaksanakan jagra (begadang dan meditasi)
Manusia sekarang masih tetap sama begadang, namun karena akal-setan yang gentayangan!
Lubdaka, dahulu pernah melakukan mona brata (puasa ngomong)
Sama juga! Manusia sekarang puasa ngomong karena sibuk goyang-goyang di ranjang

Perjalanan Lubdaka Dahulu Saat Malam Siwa dan Manusia Sekarang Saat Malam Akhir Pekan

Lubdaka dahulu memetik daun bila
Manusia sekarang memetik buah kuldi
Lubdaka dahulu membuang daun bila ke pemujaan Siwa
Manusia sekarang membuang benih anak haram di seprai hotel pinggir kota
Lubdaka dahulu diterima di alam Siwa
Manusia sekarang diterima di alam ??????

15 July 2010

dalam gelap

dalam gelap, semua terlihat jelas
dalam gelap, segalanya terdengar merdu
dalam gelap, semesta terasa begitu teratur
dalam gelap, terang hanyalah kilau penipu

14 July 2010

pikun

ini sungguh-sungguh dan sangat serius!
maaf kalau saya tidak mengenal betul kalian
saya pasti lupa nama-nama,juga wajah-wajah kalian
maklum jarang berjumpa, malah bisa saja tidak pernah bertatap muka

jangankan hapal seribu nama..
dimana kunci motor ditaruh saja, sudah tidak mengingatnya
ahh! saya memang pikun, tapi masih di batas pikun yang diperkenankan
siapa bilang, pikun itu tidak perlu?

ini masih sungguh-sungguh dan tetap sangat serius!
seandainya pikun nama kalian, itu bisa saya tukar seenaknya
maka saya akan dengan sangat senang hati menukarnya dengan pikun kesalahan kalian

electricity


an electrician is trained
to hide things
under and over, behind
and inside whatever,
and says that when
he's gone you'll need
an electrometer to know
where he's been.
and of course the creator
was an electrician
with elementary particles
in his care,
not a carpenter.
and certainly not a plumber.

11 July 2010

KAFAN!

ucapkan satu kata yang lebih dari erat dari erat!
PELUK. RENGKUH. DEKAP. BALUT. BUNGKUS. sedang talak begitu licin terucap.

ucapkan satu kata yang lebih setia dari setia!
ANAK. NAFAS. DENYUT JANTUNG. BORGOL. PENJARA. sedang kematian begitu tipis tertembus.

jika belatung bukan perkara, persilakan aku meliang-lahat bersamamu.

silakan kamu mengenakanku:
KAFAN!

santaiii... kakak :)

aku mendapatkan beberapa catatan penting dalam pembicaraan setengah serius anak-anak kecil di studio foto, petang lalu.

kusebut setengah serius, karena mereka nampak akan menjalani sesuatu yang serius namun tidak mau terlalu serius. oleh karena itu.. kusebut saja, pembicaraan mereka sebagai pembicaraan setengah serius.

kalau kusebut serius, lantas apa masalah dari seriusnya?
sebaliknya.. jika kusebut tidak serius, mengapa harus kelihatan berbicara serius?

andaikata, aku memutuskan memilih mengambil sebutan pembicaraan serius, aku justru cemas. misalnya nanti, mereka akan memprotesku salah besar. peluang dicap salah besar juga bisa terjadi kalau aku menyebutnya pembicaraan tidak serius. lalu, akulah yang akan jadi korbannya disini. sebab mereka pasti protes, kecewa atau malah bisa marah besar. bisa saja mereka cuma menanggapinya biasa saja, sekadar lewat. nah.. sekarang pertanyaannya, apakah dampaknya padaku? akan serius atau malah tidak serius? kemudian, untuk apa aku memikirkan apa yang mereka bicarakan? apa aku telah menganggapnya serius, karena materinya yang sangat penting atau justru tidak serius tetapi menarik untuk disimak?

larut begitu saja di pikiran-pikiran ini. aku tidak sadar untuk sekian lama. sampai akhirnya, anak-anak kecil itu yang menarikku kembali dari keruwetan serius-tidak serius ini dengan mengatakan "kak, sadar kak! jangan terlalu dipikirkan serius atau tidaknya, bukannya kakak juga ikut ngobrol tadi? sepertinya, kakak sama sekali tidak konsentrasi dengan apa yang dibicarakan. kakak malah terlalu sibuk mereka-reka apa yang terjadi. nikmati saja dengan tidak serius, namun lakoni semuanya dengan serius. dan bukankah seperti itu juga caranya kita menikmati hidup?"

-the end-

05 July 2010

tanpa judul

dia kembali berseri-seri, pikirannya penuh ide cemerlang tiada batas. dia temukan lagi sesuatu yang sempat hilang beberapa lama lalu. sesuatu yang membuatnya jenuh, lemah, tak bergairah saat tidak ada lagi kawan di larut malam. sesuatu yang tidak bisa dilepas, meski orang-orang meneriakinya bodoh, dungu, gendeng. sesuatu yang membuat dia, menjadi dirinya atau kurang lebih begitu. dirangkulnya kembali miliknya itu. tak pernah dilepas lagi dalam waktu lama seperti masa yang telah lewat. dia merasa benar-benar memaknai hidup dengannya. "aku ingin bersamamu hingga akhir hayat," ujarnya dalam hati. kini, dia terbujur lemah. sesuatu yang dibanggakannya semasa masih sehat, tetap setia menemani, meski tidak lagi bisa dinikmati. "kau menang. hidupku tinggal sebentar lagi, sementara kamu masih tetap segar dan menggoda," bisiknya pada sebungkus rokok, sesaat sebelum ajal menjemput.

24 May 2010

aksara

"terimalah ini.."
tersodor selembar ijazah dengan catatan ekstra dalam huruf tebal cum laude. dilihat sekilas, lalu kembali bertatap wajah.

"ini satu lagi."
tangan menyerahkan rekening koran, tercetak berlembar-lembar. tak lama kemudian kembali melihat kedepan.

"dan satu lagi.. supaya lengkap."
diambilnya dua lembar foto dari dalam buku agenda. satunya balita dan yang lain lelaki muda.

akhirnya mereka berdua duduk menghadap kearah yang sama, tidak menyesal karena bahkan tidak berharap.

"ini semua karena rasa syukur, dan kamu pantas mendapatkannya."
tidak ada tetes airmata. posisi duduk mereka berdua masih sama.

"sudah saatnya berhenti berpikir bisa memiliki semua."
hanya bibir yang bergerak dan pelepah pisang yang bergoyang. semua tampak biasa.

"hanya satu bantuan."
akhirnya kepala tidak lagi menatap kedepan, menoleh.

"kenalkan aku."
tak memakan waktu lama hingga akhirnya kembali menatap kedepan. seekor kucing melintas.

"setia."
hitungan detik langit menjadi gelap. rupanya sudah malam. taman dengan kursi duduk menjadi stasiun kereta. bocah lusuh menawarkan semir sepatu. dikeluarkannya uang tidak sedikit. dilepasnya selop kayu. meski tidak bisa disemir. bocah kaget. dan empat pengumuman kereta terlambat. poni kleopatranya dihembus angin. hitungan detik langit menjadi terang. mereka sudah diruang tunggu pegadilan. masih menatap kedepan. dua ibu memaki petugas. bocah semir kembali datang. tersodor lagi uang dan selop kayu. bocah kaget. langit kembali gelap. kursi duduk dihadapan penjagalan sapi. bocah tidak berubah kembali bertanya. kembali uang keluar. kembali kaget. selop kembali tidak berguna terhadap semir.

"dimana setia?"
akhirnya setelah lama ia bertanya. dalam setiap hembusan angin memainkan poni, mereka berdua tidak lagi berada ditempat yang sama. sisanya sama ibu berselop kayu, perempuan dan satu bocah lusuh. pembicaraan terus berlangsung dalam diam dalam satuan waktu tak terkatakan. diambil ijazah dan ditaruh dipaling atas.

"katanya akal budi."
poninya sedikit berubah. kini berada diruang tunggu penjahit terkenal dari india. semua sibuk sementara diluar bocah lusuh memandang kedalam. menempel kedua tangan dikaca. udara dari hidung mengembun. uang diambil namun ia diluar tak kuasa masuk. selop dilepas dan langit merah. rekening koran sekarang sudah diatas ijazah. bocah menutup matanya. ternyata poninya bergerak. langit begitu gelap. tidak ada sesal dipondok pelataran kuburan.

"katanya strategi."
begitu semayup. alang-alang kekiri kekanan. poni tidak berubah. putri malu dan jangkrik. nisan dan gundukan. duduk tidak berubah. langit memasang bintang sehingga sedikit terang. tak kunjung terlihat bocah lusuh. sementara selop dan uang sudah begitu siap. tidak ada yang tahu berapa lama. tidak ada yang tahu. wajah lelaki sekarang ada diatas rekening koran.

"katanya intuisi."
ada cahaya diujung kubur tanpa nama. udara mampu menggeser satu anak rambut dari dahi. dan temaram. anak kecil perlahan membuat kubur semakin terang. petromaks. tanpa semir ia berjalan sendirian. kembali uang dan selop diserahkan. bocah lusuh kaget. petromaks mati dan poni tertiup. wajah balita kini menutup foto lelaki. terang benderang dipinggir jalan.

"katanya cinta."
perempuan dan ibu berselop kayu masih menatap kedepan. sebuah warung menghadap danau. dibelakang mereka banyak bocah lusuh. selop dan uang bukan yang diinginkan. tak satupun menghampiri. danau terlihat begitu kotor. perempuan menoleh, ibu menyambut. tersenyum. kerumunan kisruh. dibelakang tempat mereka duduk, diatas aspal tergeletak ibu tak lagi mengenakan selop. poninya bergerak gerak tanpa angin. ada ijazah, rekening koran, dua lembar foto dan darah. petugas datang. ibu dan perempuan masih menatap danau yang sama. kali ini dengan senyum.

26 April 2010

my dedication

Tuhanku...
Aku tau Kau tak pernah mengharapkan darah kotorku setetes pun
Aku tau Kau tidak pernah menginginkan secuil dagingku yang pahit ini
Aku tau Kau tak pernah meminta penggalan kepalaku hanya untuk dijadikan caru persembahan
Aku tidak pernah tau apa yang Kau inginkan dariku
Yang aku yakini Kau hanya memastikan HukumMu berjalan dengan semestinya
Aku juga yakin, Kau tidak perlu apapun bahkan disembah sekalipun
Yang aku percaya, Kau tidak butuh apapun, selain diingat olehku
Supaya aku sadar, kesucianMu begitu jauh dari jangkauanku saat sekarang
Untuk itu, aku akan persembahkan segala hasil perbuatanku tanpa syarat KepadaMu,
Tuhanku...

07 March 2010

gigolo perjaka

pulang... pulanglah... gigolo tampanku...
biarawati itu telah mati karena sumpahnya semalam!
tenggorokannya terkoyak belatung, terjejal mantra-mantra palsu
lendirnya bercampur darah dan kencing anjing di tanah Jakarta!
busuk... bau...
gigolo tampanku, kau bisa bebas sekarang
bebas tersenyum..
berlari bagaikan anak kecil yang merindukan dekapan sang ibu
merengeklah kembali seperti perjaka yang haus cinta
menjauhlah dari mayat biarawati yang menjual alunan gentanya ke tuan tanah!
pulang... pulanglah... mendekatlah padaku...
kata-kataku adalah candu dan tulisanku akan membuaimu hingga kau mati...
mati dalam keheningan gigolo perjaka!
My photo
i don't care what people say, cause i know who i am